DEMAM BERDARAH
DENGUE
(DBD)
A.
Pengertian
1.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk
kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betinanya. (
Effendy ; 1995: 1)
2.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk kedalam tubuh melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti. (Suriadi; 2001: 57)
3.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah infeksi akut yang
disebabkan oleh arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes (A. Aegypti dan A. albopictus). (Ngastiyah; 1997: 341).
B. Etiologi
Virus dengue sejenis arbovirus.
Penyebab demam berdarah DBD
adalah nyamuk Aedes aegypti yang tumbuh dan berkembang biak pada :
·
Banyaknya
genangan air yang kotor.
·
Banyaknya
sampah-sampah berserakan.
·
Lingkungan
yang kurang bersih.
C. Tanda dan Gejala
·
Mendadak panas tinggi selama 2 sampai 7 hari.
·
Tampak bintik-bintik merah pada kulit.
·
Kadang-kadang terjadi pendarahan di hidung (mimisan).
·
Mungkin terjadi muntah atau berak darah.
·
Sering terasa nyeri di ulu hati.
Bila sudah parah,
penderita gelisah. Tangan dan kakinya dingin dan berkeringat
D. Patofisiologi
Virus
dengue akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks
virus-antibody, hal pertama yang terjadi setelah virus masuk adalah viremia
yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot,
pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam/atau bintik-bintik merah (petekie), hiperemi
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah
bening, pembesaran hati (hepatomegali) dan pembesaran limfa (splenomegali).
Didalam sirkulasi kompleks virus antibody akan
mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan
C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator
kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan
menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi
trombosit dan menurunnya faktor koagulasi merupakan faktor terjadinya
perdarahan hebat, terutama pada perdarahan saluran gastrointestinal.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya
permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunya volume plasma, terjadinya
hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragic. Renjatan terjadi secara
akut.
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler
mengakibatkan berkurangnya volume plasma,
terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan
renjatan atau syok. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul
anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi
dengan baik.
Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut tiga faktor
yaitu perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.
E. Manifestasi
Klinis
Manifestasi klinis yang timbul bervariasi berdasarkan
derajat DHF dengan masa inkubasi antara 13-15 hari. Penderita biasanya
mengalami demam akut 5-7 hari (suhu meningkat tiba-tiba), sering disertai
menggigil saat demam pasien compos mentis.
Gejala klinis lain yang timbul dan sangat menonjol
adalah terjadinya perdarahan saat demam dan tak jarang pula dijumpai saat
penderita mulai bebas dari demam. Perdarahan yang terjadi dapat berupa
perdarahan pada kulit (petekie, ekimosis, hematoma) dan perdarahan lain seperti
epistaksis, hematemesis, hematuri dan melena.
Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas
DHF, gambaran klinik lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF
adalah :
1.
Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek
dan sakit waktu menelan.
2. Keluhan pada saluran pencernaan seperti
mual, muntah, anoreksia, diare dan konstipasi.
3. Keluhan sistem tubuh yang lain seperti
nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot, tulang dan sendi, nyeri otot abdomen,
nyeri ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, kemerahan pada kulit, kemerahan
pada muka, pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan potofobia, otot-otot sekitar
mata sakit jika disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal.
4.
Pada penderita DHF sering juga dijumpai pembesaran
hati, pembesaran limfa dan kelenjar getah bening yang akan kembali normal pada
masa penyembuhan.
5.
Pada penderita yang mengalami renjatan akan mengalami
sianosis perifer terutama tampak pada ujung jari dan bibir, kulit teraba lembab
dan dingin, tekanan darah menurun, nadi cepat dan lemah.
F.
Klasifikasi
Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue diklasifikasikan berdasarkan
beratnya penyakit, secara klinis dibagi menjadi 4 (WHO, 1986) :
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Uji
tourniquet (+), trombositopenia dan hemokonsentrasi.
Derajat II
Derajat I dan disertai
perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain.
Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah
rendah (hipotensi), gelisah, sianotik disekitar mulut, hidung dan ujung jari
(tanda-tanda dini renjatan).
Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat
diukur.
G.
Pemeriksaan
Diagnostik
1.
Darah lengkap : hemokonsentrasi (Hematokrit meningkat
20% atau lebih), trombositopenia (100000/mm3 atau kurang).
2.
Serologi : uji HI (Hemaaglutination Inhibition Test).
3.
Rontgen torak : effusi pleura.
H.
Penatalaksanaan
Terapeutik
1.
Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula
atau susu.
2.
Antipiretik jika terjadi demam.
3. Pemberian cairan melalui infus, dilakukan
jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat
sangat membantu, thanks
BalasHapus