Kamis, 22 Maret 2012


 DEMAM BERDARAH DENGUE
 (DBD)


A.                      Pengertian
1.      Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betinanya. ( Effendy ; 1995: 1)
2.      Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. (Suriadi; 2001: 57)
3.      Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (A. Aegypti dan A. albopictus). (Ngastiyah; 1997: 341).

B.     Etiologi
Virus dengue sejenis arbovirus.
Penyebab demam berdarah DBD adalah nyamuk Aedes aegypti yang tumbuh dan berkembang biak pada :
·         Banyaknya genangan air yang kotor.
·         Banyaknya sampah-sampah berserakan.
·         Lingkungan yang kurang bersih.

C.        Tanda dan Gejala
·         Mendadak panas tinggi selama 2 sampai 7 hari.
·         Tampak bintik-bintik merah pada kulit.
·         Kadang-kadang terjadi pendarahan di hidung (mimisan).
·         Mungkin terjadi muntah atau berak darah.
·         Sering terasa nyeri di ulu hati.
Bila sudah parah, penderita gelisah. Tangan dan kakinya dingin dan berkeringat

D.        Patofisiologi
Virus dengue akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody, hal pertama yang terjadi setelah virus masuk adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam/atau bintik-bintik merah (petekie), hiperemi tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (hepatomegali) dan pembesaran limfa (splenomegali).
Didalam sirkulasi kompleks virus antibody akan mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi merupakan faktor terjadinya perdarahan hebat, terutama pada perdarahan saluran gastrointestinal.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragic. Renjatan terjadi secara akut.
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya  volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan atau syok. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik.
Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut tiga faktor yaitu perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.

E.        Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi antara 13-15 hari. Penderita biasanya mengalami demam akut 5-7 hari (suhu meningkat tiba-tiba), sering disertai menggigil saat demam pasien compos mentis.
Gejala klinis lain yang timbul dan sangat menonjol adalah terjadinya perdarahan saat demam dan tak jarang pula dijumpai saat penderita mulai bebas dari demam. Perdarahan yang terjadi dapat berupa perdarahan pada kulit (petekie, ekimosis, hematoma) dan perdarahan lain seperti epistaksis, hematemesis, hematuri dan melena.
Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas DHF, gambaran klinik lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF adalah :
1.      Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek dan sakit waktu menelan.
2.      Keluhan pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, anoreksia, diare dan konstipasi.
3.      Keluhan sistem tubuh yang lain seperti nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot, tulang dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, kemerahan pada kulit, kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan potofobia, otot-otot sekitar mata sakit jika disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal.
4.      Pada penderita DHF sering juga dijumpai pembesaran hati, pembesaran limfa dan kelenjar getah bening yang akan kembali normal pada masa penyembuhan.
5.      Pada penderita yang mengalami renjatan akan mengalami sianosis perifer terutama tampak pada ujung jari dan bibir, kulit teraba lembab dan dingin, tekanan darah menurun, nadi cepat dan lemah.

F.                 Klasifikasi Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue diklasifikasikan berdasarkan beratnya penyakit, secara klinis dibagi menjadi 4 (WHO, 1986) :
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Uji tourniquet (+), trombositopenia dan hemokonsentrasi.
Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain.
Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah (hipotensi), gelisah, sianotik disekitar mulut, hidung dan ujung jari (tanda-tanda dini renjatan).
Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

G.                Pemeriksaan Diagnostik
1.      Darah lengkap : hemokonsentrasi (Hematokrit meningkat 20% atau lebih), trombositopenia (100000/mm3 atau kurang).
2.      Serologi : uji HI (Hemaaglutination Inhibition Test).
3.      Rontgen torak : effusi pleura.

H.                Penatalaksanaan Terapeutik
1.      Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
2.      Antipiretik jika terjadi demam.
3.      Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat

1 komentar: